Ekonomi

Investasi moderat dan permintaan eksternal yang rendah pada 2013 menghambat pertumbuhan di ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Pemerintah menerapkan berbagai kebijakan untuk mengendalikan permintaan domestik setelah melonjaknya inflasi, melemahnya rupiah dan melebarnya defisit necara berjalan. Pertumbuhan diprediksi untuk sedikit menurun pada 2014 sebelum kembali membaik tahun depan. Inflasi diprediksi akan menurun dan posisi eksternal akan membaik dalam periode tersebut.

Kinerja Ekonomi

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) terkoreksi menjadi 5,8% pada 2013, dari rata-rata 6,3% dalam 3 tahun sebelumnya, sebagai akibat dari menurunnya nilai investasi. Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk mengendalikan permintaan domestik di saat inflasi meningkat dan defisit necara berjalan melebar.

Pertumbuhan pada investasi tetap (fixed investment) melambat menjadi 4,7% pada 2013, setelah sebelumnya mengalami penguatan sebesar 9% per tahun pada periode 2010-2012. Hal ini merupakan dampak dari suku bunga yang lebih tinggi serta rupiah yang terdepresiasi terhadap investasi pada alat-alat produksi. Investasi pada bangunan berada di posisi yang cukup stabil. Belanja modal pemerintah pusat mengalami koreksi, meskipun tetap berkembang sebanyak 18,4%. Proporsi investasi tetap bruto terhadap PDB mengalami penurunan menjadi 31,7%.

Nilai konsumsi swasta tetap tinggi pada 2013, naik sebesar 5,3% dan berkontribusi sebesar setengah dari total PDB di sisi pembelanjaan.

Angka belanja negara tumbuh sebesar 4,9% yang mengindikasikan perbaikan dalam proses penggunaan anggaran. Tingginya nilai ekspor netto barang dan jasa berkontribusi secara signifikan pada PDB tahun lalu, terlepas dari lemahnya ekonomi berbagai negara tujuan ekspor utama Indonesia. Perbaikan ini disebabkan oleh berkurangnya impor akibat depresiasi rupiah dan investasi yang melambat, serta sedikit pertumbuhan pada volume ekspor.

Dari sisi produksi, pertumbuhan sektor jasa berkurang menjadi 7,1%, namun sektor ini masih berkontribusi sebanyak 3,3 poin persentase dari total pertumbuhan. Pertumbuhan yang baik sebesar sekurangnya 7,0% tercatat pada sektor-sektor transportasi, komunikasi, keuangan, dan hotel. Sektor manufaktur berkembang sebesar 5,6%, sedikit bertambah dari tahun sebelumnya, dan hal tersebut berkontribusi sebesar 1,4 poin persentase pada pertumbuhan PDB.

Cuaca buruk dan turunnya harga dunia untuk minyak kelapa sawit dan karet memperlambat pertumbuhan pada sektor pertanian menjadi 3,5%. Sektor pertambangan hanya tumbuh sebesar 1,3% sebagai dampak dari kombinasi bertumbuhnya produksi batubara dan logam di satu sisi, serta menurunnya produksi minyak bumi dan gas alam di sisi lain.

Indikator Ekonomi Pilihan (%) - Indonesia 2014 2015
Pertumbuhan GDP 5.7 6.0
Inflasi 5.7 4.8
Neraca Berjalan (terhadap PDB) -2.9 -2.0

Sumber: Asian Development Outlook (ADO) 2014; Perkiraan ADB.

Prospek Ekonomi

Proyeksi ekonomi mengasumsikan Pemerintah akan melanjutkan kebijakan stabilisasinya yang mulai diluncurkan pada paruh kedua 2013, serta pemilihan umum legislatif dan presiden pada bulan April dan Juli 2014 akan berlangsung lancar. Proyeksi juga mengasumsikan bahwa Pemerintah akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memperbaiki iklim investasi.

Atas dasar tersebut, PDB diproyeksikan akan tumbuh sebesar 5,7% pada 2014, untuk kemudian menanjak menjadi 6,0% pada 2015.

Sumber: Asian Development Outlook (ADO) 2014; Perkiraan ADB.

  Read More