Pasar Obligasi Asia Harus Siap Hadapi Risiko Penularan Krisis yang Makin Meningkat

View chart in higher resolution.

JAKARTA, INDONESIA – Pasar obligasi domestik di negara kawasan Asia timur telah mampu bertahan menghadapi volatilitas pasar yang terjadi belakangan ini, namun risiko akan terus meningkat dan negara-negara di kawasan tersebut harus tetap siap untuk menghadapinya. Demikian diungkapkan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) dalam laporan Asia Bond Monitor terbarunya yang diluncurkan di Jakarta bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Data ekonomi yang bagus, imbal hasil yang menarik, serta pulihnya nilai tukar sejumlah mata uang menunjukkan bahwa Asia masih menjadi tempat terbaik untuk investasi. Namun demikian, risiko penularan krisis (contagion risk) kini lebih tinggi dari sebelumnya,” ujar Kepala Kantor Integrasi Ekonomi Regional ADB, Iwan Jaya Azis.

Laporan ADB tersebut menyatakan, agar terhindar dari potensi sentimen negatif, pemerintah negara-negara di kawasan Asia timur harus menerapkan reformasi struktural untuk memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong pertumbuhan produktivitas.

 

Negara dengan defisit neraca perdagangan yang besar serta memiliki cadangan devisa yang rendah akan menghadapi contagion risk yang paling tinggi. Sementara itu, negara dengan utang luar negeri yang besar akan rentan terhadap risiko depresiasi mata uang.

Obligasi berdenominasi mata uang lokal di kawasan Asia timur cukup stabil pada kuartal IV tahun 2013, ketika krisis menimpa negara-negara berkembang lainnya. Meskipun demikian, imbal hasil dari mayoritas obligasi pemerintah naik pada Januari, khususnya di Indonesia dan Filipina. Seiring dengan langkah Amerika Serikat untuk mengurangi pembelian obligasi pemerintah dalam beberapa bulan mendatang, ketidakpastian pasar global diprediksi akan berlanjut.

Dalam hal ini, porsi kepemilikan asing dalam obligasi pemerintah berdenominasi mata uang lokal cukup stabil pada 3 bulan terakhir di 2013 karena prediksi pertumbuhan ekonomi yang solid serta nilai imbal hasil yang menarik dibandingkan pasar lain. Indonesia tercatat memiliki porsi kepemilikan asing tertinggi pada akhir 2013 sebesar 32,5% dari total obligasi pemerintah, diikuti Malaysia yang mencapai 29,4%.

Negara berkembang kawasan Asia timur terdiri dari Republik Rakyat Cina; Hong Kong, Cina; Indonesia; Republik Korea; Malaysia; Filipina; Singapura; Thailand; dan Vietnam.

Pada akhir kuartal IV, pasar obligasi Indonesia mencatatkan pertumbuhan tercepat kedua di kawasan ini setelah Vietnam. Pasar obligasi Indonesia tumbuh 6,8% dalam kuartal ini, dan 20,1% dibandingkan tahun lalu menjadi US$108,0 miliar. Obligasi pemerintah tumbuh 7,9% dalam kuartal ini dan tumbuh 20,9% dibandingkan tahun lalu, menjadi US$90,0 miliar. Obligasi korporasi tumbuh 1,5% dalam kuartal ini dan 16,4% dibandingkan tahun lalu menjadi US$18,0 miliar.

Pertumbuhan obligasi pemerintah di Indonesia terutama didukung oleh obligasi pemerintah pusat, yang terdiri dari surat perbendaharaan negara dan obligasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan, serta Sertifikat Bank Indonesia. Di sektor korporasi, pertumbuhan didukung oleh kenaikan obligasi korporasi konvensional, obligasi subordinasi, dan obligasi Sukuk Ijarah.

Penjualan sukuk negara-negara berkembang Asia kawasan timur tetap kuat, yaitu sebesar US$91,7 milyar pada tahun lalu. Pasar obligasi syariah di Indonesia merupakan yang kedua terbesar di kawasan ini, setelah Malaysia. Namun, perkembangan pasar obligasi syariah di Indonesia masih dalam tahap awal, dan hanya berkontribusi 7,4% untuk total pasar obligasi. Kajian khusus di Asia Bond Monitor mencatat bahwa sukuk berpotensi besar menjadi sumber pembiayaan bagi proyek infrastruktur. Untuk merealisasikan hal tersebut, Pemerintah harus membuat kerangka regulasi yang tepat agar debitur makin kerap memanfaatkan sukuk.

Sementara itu, pasar obligasi kawasan terus berkembang. Pada akhir tahun, negara berkembang di kawasan Asia timur memiliki US$7,4 triliun obligasi, lebih tinggi 2,4% dibandingkan akhir September 2013 dan 11,7% lebih tinggi dibandingkan akhir 2012. Pasar obligasi Vietnam mencatatkan pertumbuhan tercepat secara kuartal, yaitu naik 14,8%. Sementara itu, Indonesia mencatatkan pertumbuhan tahunan tertinggi yaitu 20,1%.

Di saat pemerintah cenderung mengeluarkan obligasi berdenominasi mata uang lokal dibandingkan obligasi berdenominasi mata uang asing dalam beberapa tahun ini, banyak perusahaan, seperti usaha properti di Republik Rakyat Cina, justru mengambil keuntungan dari kuatnya permintaan untuk meluncurkan obligasi berdenominasi dolar.

Pada 2013, kawasan ini mencatat rekor dengan menjual US$141,5 miliar obligasi berdenominasi dolar, yen, dan euro. Dari jumlah tersebut, sebanyak US$128,4 miliar dikeluarkan oleh berbagai perusahaan yang berasal dari kawasan Asia timur ini. Depresiasi mata uang lokal berarti biaya utang yang lebih tinggi di saat kondisi ekonomi domestik melemah. Nilai penerbitan obligasi korporasi berdenominasi mata uang lokal mencapai US$765 miliar tahun lalu.