Ratifikasi Inisiatif Segitiga Terumbu Karang: Kerjasama Antarnegara untuk Dirikan Sekretariat Bersama

Photo Essay: Coral Triangle Book

MANADO, INDONESIA – Menteri-menteri dari Indonesia, Malaysia, Kepulauan Solomon dan Timor Leste bertemu di Manado dan meratifikasi perjanjian untuk mendirikan Sekretariat Kawasan bagi Inisiatif Segitiga Terumbu Karang untuk Terumbu, Perikanan dan Ketahanan Pangan (Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security, CTI-CFF). Sekretariat bersama ini akan mendorong berbagai program kerjasama kawasan untuk menguatkan pengelolaan sumberdaya pesisir dan perairan, serta upaya mitigasi dampak perubahan iklim terhadap perikanan dan mata pencaharian masyarakat.

Menurut dua publikasi yang diluncurkan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) pada Pertemuan Tingkat Menteri CTI-CFF pada 15 Mei bersamaan dengan bersamaan dengan Konferensi Terumbu Karang Sedunia, penangkapan ikan secara berlebih dan penangkapan dengan cara merusak (destructive fishing) merupakan ancaman utama bagi terumbu karang di kawasan Segitiga Terumbu Karang. Ancaman lainnya adalah berupa pasokan nutrisi yang berlebih ke laut, polusi, pembangunan di darat dan pesisir sekitar kawasan, dan eksploitasi spesies yang terancam punah.

Publikasi pertama, berjudul Regional State of the Coral Triangle Report mengindikasikan bahwa di Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor-Leste telah terjadi tangkap lebih yang mengancam populasi ikan, bahkan termasuk yang hidup di dasar laut (bottom dwellers) dan laut terdalam (pelagic). Hal ini dikhawatirkan akan berdampak negatif bagi ketahanan pangan dan mata pencaharian di kawasan tersebut.

Sedangkan dalam publikasi kedua yang berjudul Economics of Fisheries and Aquaculture in the Coral Triangle, diperkirakan bahwa kawasan ini berkontribusi sekitar 10% terhadap pasokan hasil laut global, menjadi gantungan penghidupan bagi sekitar 4,6 juta orang, serta memiliki nilai produksi tahunan sebesar $10 milyar. Tata kelola yang lemah, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan secara umum telah membuat pekerjaan orang-orang ini berada dalam ancaman. Kondisi ini juga menegaskan pentingnya integrasi kawasan yang lebih kuat lagi dan mendorong investasi untuk menjaga ekosistem yang sehat dan produktif.

Selain itu, ADB juga menginisiasi studi mengenai tatanan dan strategi finansial untuk mengembangkan investasi jangka panjang dan rencana finansial yang berkelanjutan bagi CTI. Hal ini diharapkan dapat menjadi awal mula bagi terwujudnya berbagai proyek yang mandiri serta selaras dengan kebutuhan nasional dan kawasan.

Dalam pesan bersamanya, Direktur Jenderal ADB untuk Departemen Asia Tenggara, James A. Nugent, dan Direktur Jenderal ADB untuk Departemen Pasifik Xianbin Yao, menyatakan bahwa laporan ini ini “menggaris-bawahi isu-isu penting yang harus dihadapi oleh para pengambil keputusan, apabila ingin mencapai pembangunan berkelanjutan bagi sumberdaya di kawasan pesisir dan laut Segitiga Terumbu Karang.”

Bekerja sama dengan Global Environment Facility (GEF) dan mitra-mitra lainnya, ADB bertindak sebagai mitra utama dalam memobilisasi sumberdaya bagi program ini. Sampai saat ini, lebih dari $300 juta telah diperoleh, dan lebih dari $125 juta di antaranya diperoleh dari GEF. Selain itu, pendanaan baru yang merupakan penambahan keenam juga telah disetujui oleh GEF, dan akan tersedia bagi negara-negara CTI-CFF mulai Juli 2014.