MENINGKATNYA RESIKO RESESI YANG MENDALAM DI ZONA UERO DAN AMERIKA SERIKAT MENGANCAM ASIA

MANILA, FILIPINA – Pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur yang sedang berkembang akan terus mengalami moderasi memasuki 2012 seiring dengan membesarnya masalah utang dalam obligasi mata uang asing (sovereign debt) dari negara-negara Eropa dan lesunya perekonomian di Amerika Serikat yang meningkatkan kekawatiran tentang anjloknya perekonomian global demikian dikatakan oleh publikasi terbaru Asian Development Bank Asian Economic Monitor.

Laporan itu menyebutkan bahwa jika perekonomian di zona euro dan Amerika Serikat berkontraksi secara tajam maka dampak terhadap perekonomian Asia Timur yang sedang berkembang akan serius tetapi masih bisa ditangani.

“Gejolak yang berasal dari Eropa makin membahayakan bagi perdagangan dan keuangan di dalam kawasan Asia Timur yang sedang berkembang; karenanya para pembuat kebijakan di kawasan tersebut harus siap untuk bertindak cepat, tegas dan bersama-sama untuk menghadapi apa yang bisa menjadi penurunan ekonomi global yang berkepanjangan,” kata Iwan Jaya Aziz, Kepala Kantor Integrasi Ekonomi Regional ADB yang mengeluarkan laporan ini.

Laporan tengah tahunan yang dikeluarkan hari ini mengkaji perekonomian di 10 negara ASEAN – Brunei Darussalam; Kamboja; Indonesia; Republik Rakyat Demokratik Laos; Malaysia; Myanmar; Filipina; Singapura; Thailand; and Viet Nam – dan juga Republik Rakyat Cina; Hong Kong, China; Republik Korea dan Taipei, China.

ADB menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk kawasan pada tahun 2012 menjadi 7,2% dari 7,5% pada bulan September ketika meluncurkan Asian Development Outlook 2011 Update. Pertumbuhan tahun ini diperkirakan masih 7,5 %.

Dalam bab khusus – Apakah Asia Bisa Mengatasi Satu Lagi Krisis Ekonomi Global? – laporan ini menggambarkan kejadian-kejadian yang akan bisa membawa resesi di zona euro dan turunnya kembali perekonomian di Amerika Serikat Serikat. Bab tersebut membahas bagaimana krisis ekonomi global yang baru dapat mempengaruhi kawasan dalam beberapa skenario yang berbeda-beda. Asia Timur terdiri dari perekonomian di Asia Timur yang sedang berkembang ditambah Jepang.

Dalam skenario terburuk dimana zone euro dan Amerika Serikat berkontraksi sebesar tahun 2009 – kawasan Asia Timur yang sedang berkembang akan tumbuh sebesar 5,4% tahun depan. Angka tersebut lebih rendah 1,8 % dibandingkan perkiraan saat ini tetapi tidak seburuk dampak krisis global pada 2008/2009. Hal ini terjadi karena diversifikasi pasar ekspor kawasan Asia Timur dan meningkatnya permintaan dalam negeri sebagai sumber pendorong pertumbuhan.

Meskipun demikian, sistem keuangan kawasan tetap rentan seperti pada waktu 2008. Laporan ini mencatat bahwa para investor makin ingin menghindari resiko sehingga mereka akan mengurangi kepemilikan mereka atas aset-aset finansial di Asia sedangkan bank-bank di Eropa yang sudah memiliki banyak hutang, akan mengurangi pinjaman sehingga memperketat kondisi kredit.

Untuk mengatasi kemungkinan terjadinya krisis global yang berkepanjangan dan pemulihan yang lambat setelah krisis, para pembuat kebijakan di Asia bisa menggunakan perangkat finansial, moneter dan fiskal yang tersedia. Termasuk mekanisme yang sudah ada untuk melindungi stabilitas finansial dan menjamin tersedianya kredit secara mencukupi di kawasan regional. Kebijakan moneter harus tetap fleksibel, sementara koordinasi nilai tukar akan menghindari terjadinya kompetisi untuk melakukan devaluasi. Kawasan ini masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk memberikan stimulus secara bertahap dan hati-hati jika diperlukan dan pada saat yang sama menghindari tekanan yang terlalu besar terhadap anggaran.

Laporan ini memperkirakan perekonomian di kawasan euro akan tumbuh 0,5% tahun depan dan perekonomian Amerika Serikat tumbuh sebesar 2,1%. Untuk tahun 2011, ADB masih memperkirakan masing-masing perekonomian tersebut akan tumbuh sebesar 1,7% dan 1,6 %.

Pertumbuhan ekonomi di RRC kemungkinan akan mengalami moderasi meskipun permintaan dalam negeri terus meningkat. Laporan ini memperkirakan perekonomian RRC akan tumbuh sebesar 8,8% pada tahun 2012 setelah tumbuh sebesar 9,3% pada tahun ini. Sebelumnya pada bulan September ADB memperkirakan perokonomian RRC akan tumbuh 9,1% pada 2012.

Pertumbuhan ekonomi di kawasan industri baru Hong Kong, China; Republik Korea; Singapura dan Taipei, China akan melambat tahun ini dan tahun depan, sebagian besar dikarenakan mereka lebih tergantung pada perdagangan internasional daripada negara-negara tetangga mereka. Hal ini membuat kawasan industri baru tersebut sangat rentan terhadap kontraksi ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat Serikat.

Pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN juga akan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Thailand yang mengalami masalah besar karena banjir baru-baru ini akan pulih dari gangguan pasokan tahun depan. ADB sekarang memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Thailand akan turun menjadi 2,0% tahun ini, tetapi ADB tetap mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 4,5% tahun depan.

ADB masih memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh 6,6% tahun ini tetapi ADB menurunkan perkiraaannya untuk Indonesia untuk tahun 2012 menjadi 6,5% dari perkiraan sebelumnya sebesar 6,8%. Jika kawasan euro dan Amerika Serikat mengalami resesi yang mendalam, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan turun 1,0% menjadi 5,5%.

Perekonomian Jepang diperkirakan akan pulih dari dampak bencana alam yang terjadi baru-baru ini seiring dengan dibangunnya kembali suplai pasokan tetapi menguatnya yen kemungkinan akan merugikan ekspor sedangkan konsumsi dalam negeri tetap lemah. Dengan demikian, ADB tetap memperkirakan perekonomian Jepang akan berkonstraksi sebesar 0,5% tahun ini dan akan tumbuh 2,5% tahun depan.