MANILA, FILIPINA (10 September 2012) - Pasar obligasi mata uang lokal Asia Timur telah berkembang hingga hampir mencapai $6 trilyun, namun para pembuat kebijakan di kawasan ini harus mempersiapkan diri untuk guncangan dan volatilitas yang akan terjadi dari pasar keuangan global, menurut laporan yang diterbitkan oleh Asian Development Bank (ADB).
"Pasar obligasi mata uang lokal kita muncul sebagai alternative yang aman di tengah krisis yang terjadi, namun kita tidak boleh lengah," kata Iwan J. Azis, Kepala Kantor ADB untuk Integrasi Ekonomi Regional, yang menerbitkan laporan Asia Bond Monitor.
"Pasar yang memiliki volatilitas yang tinggi dapat menghalangi investasi jangka panjang dan mengancam perekonomian dengan menaikkan biaya yang harus dikeluarkan pemerintah dan perusahaan dalam mengumpulkan dana. Selain itu, reaksi pasar yang tidak menentu terhadap tindakan kebijakan akan merusak prediktibilitas dan efektivitas kebijakan konvensional, " kata Azis.
Partisipasi kawasan yang lebih besar di pasar obligasi Asia Timur dan kerjasama yang lebih baik diperlukan untuk mengatasi volatilitas yang berasal dari guncangan eksternal dan memperkuat jaring pengamanan keuangan kawasan.
Bagian khusus dari Asia Bond Monitor yang meganalisa kinerja pasar obligasi lokal dari Republik Rakyat Cina (RRC), Indonesia, Republik Korea, Malaysia, Filipina, dan Thailand menunjukkan bahwa dampak turunan dari runtuhnya Lehman Brothers dan krisis kawasan Eropa yang sedang berlangsung cukup signifikan dan mungkin akan berlanjut. Dampak permasalahan tersebut tidak hanya dirasakan di pasar obligasi tetapi juga di pasar keuangan lainnya di kawasan ini, termasuk melalui kurs mata uang asing.
Laporan Asia Bond Monitor mencatat bahwa meskipun ada ketidakpastian dan guncangan di pasar keuangan global, obligasi yang beredar di pasar di kawasan ini terus berkembang, hingga mencapai $ 5,9 triliun pada akhir Juni, meningkat 1,9% dari akhir Maret dan tumbuh 8,6% dari akhir Juni 2011.
Secara keseluruhan, pertumbuhan pasar obligasi korporasi masih melampaui ekspansi pasar obligasi pemerintah, karena imbal hasil obligasi korporasi yang telah menurun dan pinjaman bank yang semakin ketat telah mendorong perusahaan untuk memanfaatkan pasar modal. Pada akhir Juni, terdapat $ 2 triliun obligasi korporasiyang beredar, 15,2% lebih tinggi dari tahun sebelumnya, sedangkan $ 3,9 triliun pasar obligasi pemerintah hanya 5,5% lebih besar.
Imbal hasil obligasi di banyak pasar, seperti RRC, Indonesia, dan Vietnam mulai naik pada bulan Juli dan Agustus setelah jatuh pada paruh pertama tahun ini, yang mencerminkan berkembangnya ketidakpastian dalam ekonomi global.
Obligasi mata uang lokal yang beredar di pasar Indonesia tumbuh hingga 3,8% menjadi Rp1.05 kuadriliun, atau $ 111,3 milyar, pada kuartal kedua 2012 setelah turun 1,6% pada kuartal pertama.
Pada akhir Juni 2012, sektor korporasi merupakan pendorong utama perkembangan pasar obligasi di Indonesia, tumbuh 25,9% menjadi $ 18 miliar dari setahun sebelumnya. Disisi lain, obligasi mata uang lokal pemerintah yang dikeluarkan pada periode yang sama tumbuh sebesar 0,5% menjadi $ 94 milyar, terutama terdiri dari surat berharga dan obligasi yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia menurun di tengah kekhawatiran bahwa krisis utang Eropa akan mengancam pertumbuhan ekonomi. Kepemilikan asing dari obligasi pemerintah turun dari 30,8% pada akhir tahun 2011 menjadi28,4% pada akhir Juni.
Risiko terhadap pasar terus membesar. Risiko ini termasuk memburuknya sentimen investor akibat meredupnya prospek ekonomi global, volatilitas arus modal, dan penjualan obligasi pemerintah yang berlebihan untuk membiayai kebijakan stimulus.
Laporan Asia Bond Monitor yang terbit setiap kuartal menganalisa perkembangan pasar obligasi di RRC; Hong Kong, Cina; Indonesia; Republik Korea; Malaysia; Filipina; Singapura; Thailand; dan Viet Nam.
RRC masih menjadi pasar obligasi terbesar di Asia Timur dengan peredaran obligasi sebesar $ 3,5 triliun pada akhir Juni, 1,5% lebih tinggi dari tiga bulan sebelumnya dan 6,9% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Berdasarkan pertumbuhan kuartalan , pasar yang paling cepat tumbuh di kawasan adalah Viet Nam, Thailand, dan Indonesia, yang masing masing mencapai 10,5%, 4,1% dan 3,6%.
Penerbitan obligasi di kawasan pada kuartal kedua tahun ini mencapai $ 875 milyar, meningkat 12% dibandingkan kuartal pertama, terutama karena peningkatan penerbitan obligasi pemerintah dan pada skala yang lebih kecil, penerbitan obligasi bank sentral. RRC adalah penyumbang terbesar untuk pertumbuhan ini, menjual obligasi pemerintah pada kuartal kedua sebanyak $200 milyar, naik 70,3% dari kuartal sebelumnya dan 27,0% lebih tinggi dari setahun sebelumnya.