fbpx ADB di Indonesia | Asian Development Bank

ADB di Indonesia

Membangun Kembali, Lebih Baik

Mosque in Banda Aceh
Masjid di Banda Aceh ini kembali tegak berdiri, setelah sebelumnya hancur diterjang tsunami pada 2004.

Pada Desember 2004, Indonesia diguncang gempa yang memicu tsunami dan memakan korban jiwa lebih dari 160.000 orang dan meluluhlantakan sebagian besar infrastruktur di Provinsi Aceh. Lebih dari 100.000 rumah hancur, dan setengah juta penduduk Aceh kehilangan tempat tinggal.

ADB merespons dengan menyediakan lebih dari $382 juta untuk Indonesia sebagai bagian dari $600 juta dana Asian Tsunami Fund. ADB juga segera memindahkan pengelolaan program ini langsung ke garis depan di lokasi bencana, sehingga dapat dengan cepat menjawab kebutuhan daerah setempat.

Setelah bencana terjadi, rumah tinggal menjadi prioritas bagi setengah juta penyintas di Aceh. Selain itu, jalan dan jembatan tidak dapat dilewati, sementara listrik dan prasarana lainnya hancur. Meskipun skala dan kompleksitas untuk upaya pemulihan sangat besar, bantuan ADB di tengah masa sulit tersebut banyak membantu penduduk Aceh untuk kembali ke kehidupan yang normal dan memperbaiki hidup mereka.

“Rumah yang dibangun oleh ADB masih sangat bagus, sejak dibangun 8 tahun yang lalu hingga hari ini,” kata Zahrul Fuady, seorang penyintas, tentang 8.500 rumah yang dibangun dengan bantuan ADB pasca-bencana. Ia pun menyampaikan bahwa berbagai layanan pemerintah daerah, termasuk pemetaan wilayah, membaik selama rekonstruksi.

"Kami berterima kasih kepada ADB yang telah menjadi salah satu mitra pembangunan terpenting Indonesia. Kami menyambut kelanjutan prioritas ADB untuk program berbagi pengetahuannnya. Program-program tersebut menjadi landasan bagi berbagai negara untuk saling belajar, dan berbagi praktik terbaik dalam menjawab tantangan pembangunan."

Bambang P.S. Brodjonegoro
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS, Indonesia

Hibah ADB senilai $20 juta untuk jaringan irigasi baru juga telah membantu merehabilitasi 50.000 hektar lahan pertanian di pesisir utara Aceh. Kharril Hadi, pejabat di Dinas Pertanian Tanaman Pangan Aceh, menjelaskan, “Jaringan irigasi baru ini sangat membantu. Kami sekarang bisa menanam padi dua kali per tahun, dan produksi per hektarnya naik dua kali lipat dari 4 ton menjadi 8 ton. Hal ini sangat membantu dalam meningkatkan pendapatan perdesaan.”

Sebagai bagian dari proyek, hampir 20.000 rumah dibangun kembali, 600 kilometer jalan nasional dipulihkan, 1.600 kilometer jaringan irigasi dibangun, 677 sekolah direhabilitasi, dan 8.000 sumur baru digali di Aceh. ADB juga mendanai delapan proyek pembangkit dan distribusi listrik.

Meningkatkan Pertanian

Kerja sama di atas dibangun berdasar sebuah kemitraan yang sudah berumur panjang. Indonesia adalah salah satu negara pendiri ADB dan menjadi mitra dekat selama hampir 4 dasawarsa. Saat kerja sama dengan ADB dimulai, Indonesia masih merupakan negara yang utamanya berbasis agraria, sehingga bidang inilah yang menjadi fokus awal kerja ADB.

Petani dari Desa Bojong, Yogyakarta, Indonesia
Petani dari Desa Bojong, Yogyakarta, Indonesia

Pada Agustus 1967, ADB menyetujui proyek bantuan teknisnya yang paling pertama, yaitu proyek Produksi Beras senilai $80.000. Proyek berskala relatif kecil yang bertujuan meningkatkan produksi dan ketersediaan pangan di Indonesia ini ternyata memberi hasil penting dalam jangka panjang. Proyek ini menjadi langkah awal ADB untuk memberi dukungan bagi intensifikasi padi Indonesia, yang lalu berkontribusi terhadap revolusi hijau bangsa ini. Kerja sama lanjutan dengan ADB kemudian membantu Indonesia mengadopsi varietas padi unggul, yang mengubah produksi pangan di negara ini.

Panen gabah meningkat dari hanya sekitar 1 ton per hektar pada 1960-an menjadi lebih dari 3,5 ton per hektar pada akhir 1970-an. Dalam dekade yang sama, kemiskinan yang terkonsentrasi di daerah perdesaan turun tajam, dari sebelumnya dua pertiga penduduk menjadi sepertiga penduduk Indonesia. Proyek Irigasi Tajum yang disetujui pada 1969 turut berkontribusi bagi upaya ini. Proyek tersebut adalah pinjaman pertama ADB bagi Indonesia dan bantuan pertama yang berfokus pada infrastruktur pertanian.

Sepanjang 1970-an, Indonesia memperluas kemitraan dengan ADB dan menjadi peminjam terbesarnya. Meskipun tetap mendukung sektor pertanian, bantuan ADB pada tahun 1980-an mulai beralih dari lahan tani ke energi, infrastruktur perkotaan, dan pendidikan. Sebagai contoh, Proyek Sektor Pasokan Air di Kota-kota Kecil yang disetujui pada 1980 membuka akses air bersih melalui pipa bagi lebih dari 500.000 penduduk di 33 kota di Indonesia.

Bangkit dari Keterpurukan

Anak-anak di perumahan yang dibangun melalui Proyek Sektoral ADB untuk Perbaikan dan Permukiman Kawasan di Baubau, Sulawesi Tenggara, Indonesia
Anak-anak di perumahan yang dibangun melalui Proyek Sektoral ADB untuk Perbaikan dan Permukiman Kawasan di Baubau, Sulawesi Tenggara

Dari 1990 sampai 1996, produk domestik bruto Indonesia tumbuh 7%–9% per tahun, dan membuat Indonesia dipandang sebagai salah satu macan Asia yang mulai bangkit. Namun pada 1997 krisis keuangan Asia membuat perekonomian Indonesia merosot dan kemiskinan memburuk.

Banyak sektor perbankan dan korporasi mengalami kebangkrutan, sementara indikator pembangunan sosial menurun. Indonesia perlahan bangkit dan membangun kembali stabilitas sosial, makroekonomi, serta politiknya, dan pada 2003, negara ini mampu keluar dari program Dana Moneter Internasional (IMF) yang dikhususkan bagi negara-negara yang terdampak krisis keuangan Asia. Bantuan ADB pada saat itu difokuskan pada reformasi dan ketahanan sektor keuangan.

Kini Indonesia telah bertransformasi menjadi perekonomian terbesar di Asia Tenggara, sekaligus menjadi perekonomian terbesar ke-16 di dunia.

ADB juga berperan aktif sebagai katalisdan pengelola pengetahuan, serta berada di garis depan untuk pengetahuan bidang kerja sama dan integrasi kawasan. ADB ikut serta dalam program sub-kawasan yaitu Segitiga Pertumbuhan Indonesia–Malaysia–Thailand, yang bertujuan menstimulasi pembangunan ekonomi di berbagai provinsi dan negara bagian terpilih di ketiga negara ini. ADB juga memberikan masukan bagi program sub-kawasan Area Pertumbuhan ASEAN Timur yang mencakup Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Filipina, yang diluncurkan pada 1994 untuk mempercepat pembangunan ekonomi dengan meningkatkan perdagangan, pariwisata, dan investasi di daerah-daerah yang jauh dari ibu kota negara.

Dengan makin kuatnya sistem dan kapasitas Indonesia, bantuan ADB disesuaikan guna mencerminkan kompleksitas kebutuhan pembangunan di negara berpenghasilan menengah yang berevolusi dengan cepat seperti Indonesia. Saat ini ADB membantu meningkatkan infrastruktur dan kelestarian lingkungan, memperkuat tata kelola ekonomi, dan mengembangkan sumber daya manusia di Indonesia.

Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam Together We Deliver edisi khusus, yang berisi tentang 50 kisah kemitraan yang baik di Asia dan Pasifik guna menjawab tantangan pembangunan di kawasan ini.