ADB Sahkan Strategi Kemitraan 5 Tahun yang Baru untuk Indonesia

News Release | 23 September 2020

MANILA, FILIPINA (23 September 2020) — Asian Development Bank (ADB) telah mengesahkan strategi kemitraan negara 2020-2024 untuk Indonesia, yang ditujukan guna menjalankan serangkaian dukungan finansial dan solusi melalui operasi sektor pemerintah dan swasta ADB, serta pengetahuan teknis, agar dapat mengkatalisasi investasi, mendukung pembangunan berkelanjutan, dan membantu Indonesia agar bangkit lebih kuat lagi selepas pandemi penyakit virus korona (COVID-19).

Dengan strategi 5 tahun yang baru tersebut, operasi ADB akan mendukung pembangunan ekonomi Indonesia yang inklusif dan berdaya saing, dengan berfokus pada kesejahteraan manusia, ekonomi yang kompetitif, dan lingkungan, sambil membantu untuk membangun ketahanan terhadap risiko iklim dan bencana. ADB akan membantu pembangunan ekonomi berkelanjutan di Indonesia, termasuk pemulihan dari pandemi, melalui kombinasi pengetahuan, bantuan teknis dan dukungan keuangan. ADB akan membantu Indonesia memperkuat layanan kesehatan, memperluas perlindungan sosial, meningkatkan kualitas pendidikan, dan mengembangkan keterampilan kerja. ADB juga akan membantu Indonesia menghadapi perubahan iklim dan memperkuat ketahanan terhadap bencana alam dan pandemi.

“Strategi kemitraan negara yang baru ini mencerminkan komitmen kuat ADB guna membantu Indonesia mendorong pembangunan manusia, meningkatkan daya saing ekonomi, dan menjawab risiko bencana, serta keberlanjutan lingkungan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan naiknya ancaman global seperti perubahan iklim," kata Masatsugu Asakawa, Presiden ADB. “Strategi tersebut memberikan kerangka yang fleksibel dan tangkas bagi ADB untuk membantu Indonesia memasukkan pemulihan hijau dan berbagai opsi pembangunan berkelanjutan lainnya, serta memperkuat mobilisasi sumber daya domestik guna mendukung upaya pemulihan.”

Strategi ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Indonesia (RPJMN, 2020–2024) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (Sustainable Development Goals atau SDG), serta strategi korporat ADB, Strategy 2030.

“Kami sangat menghargai dukungan kuat ADB pada Indonesia yang sudah berlangsung lama, terutama kecepatan respons ADB, serta komunikasi yang erat dan aktif dengan pemerintah selama pandemi COVID-19,” sebut Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Indonesia. “Strategi kemitraan ini memosisikan ADB sebagai mitra penting yang membawa solusi inovatif terhadap tantangan pembangunan yang kompleks. Kami menyambut baik fokus ADB pada pembangunan yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.”

Perekonomian Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara, dan ketujuh terbesar di dunia berdasarkan daya beli. Indonesia telah menurunkan tingkat kemiskinan lebih dari setengah, menjadi 9,2% dari garis kemiskinan nasional pada 2019, dari sebelumnya 23,4% pada 1999, tetapi kemajuan ini berisiko mengalami kemunduran akibat dampak berat pandemi COVID-19.

Dengan strategi ini, pinjaman ADB kepada pemerintah Indonesia diperkirakan akan mencapai $10,7 miliar pada periode 2020–2023. Operasi negara ADB akan berupaya memobilisasi pembiayaan bersama (cofinancing) dari mitra pembangunan dan investasi dari sektor swasta, guna membantu pemerintah merespons lebih baik naiknya kebutuhan keuangan di tengah pandemi COVID-19. Sebagai contoh, ADB akan membantu Indonesia menarik lebih banyak investasi swasta di bidang infrastruktur melalui kerja sama pemerintah dan badan usaha (PPP/public-private partnership) yang lebih luas. ADB akan membantu pencapaian SDG di Indonesia, dengan merancang berbagai opsi pembiayaan inovatif untuk mengurangi risiko proyek-proyek infrastruktur hijau dan sebagai katalis investasi sektor swasta.

ADB akan mendukung agenda reformasi kebijakan pemerintah dalam pembangunan modal manusia, inklusi keuangan, daya saing usaha, badan usaha milik negara, dan mempromosikan energi bersih. Operasi ADB akan berupaya memajukan kesetaraan gender di Indonesia dengan membantu meningkatkan akses perempuan ke sektor keuangan formal, memperkuat keterampilan yang meningkatkan kelayakan bekerja lulusan perempuan dan keikutsertaan perempuan dalam usaha perdesaan, serta meningkatkan akses perempuan yang rentan ke layanan bantuan sosial.

Proyek-proyek yang dibiayai ADB akan mempromosikan penerapan teknologi untuk memaksimalkan dampak pembangunan. Sebagai contoh, ADB akan memanfaatkan analitik mahadata (big data analytics), teknologi keuangan, teknologi satelit untuk pemetaan banjir dan pembangunan perkotaan, jaringan dan meteran pintar, teknologi panas bumi, teknologi limbah-menjadi-energi, serta sistem pengindraan jarak jauh guna meningkatkan proses survei dan perencanaan bagi operasi dan perawatan aset.

Program negara ADB akan mendukung partisipasi Indonesia dalam kerja sama regional dan kontribusinya terhadap pembangunan manfaat publik regional. Hal ini mencakup kerja sama perpajakan internasional, kerja sama trilateral dengan negara-negara di kepulauan Pasifik terkait kesehatan laut, kemitraan untuk mengurangi polusi lingkungan akibat limbah plastik, dan pengembangan kawasan lintas batas guna mengurangi disparitas regional.  

ADB berkomitmen mencapai Asia dan Pasifik yang makmur, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, serta terus melanjutkan upayanya memberantas kemiskinan ekstrem. Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 68 anggota—49 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik.