JAKARTA, INDONESIA (3 Desember 2018) — Asian Development Bank (ADB) telah menyetujui pinjaman $200 juta untuk memperbarui empat institusi pendidikan tinggi di Indonesia, serta meningkatkan program pelatihan teknis dan kejuruan yang akan membantu kaum muda memperoleh keterampilan kerja yang diperlukan di tengah perekonomian global yang terus berevolusi.

Proyek Pengetahuan dan Keterampilan Tingkat Lanjut untuk Pertumbuhan Berkelanjutan (Advanced Knowledge and Skills for Sustainable Growth Project) akan meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di tiga universitas di Sumatera—Jambi, Riau, dan Malikussaleh di Aceh—serta Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung, Jawa Barat, melalui penguatan kerja sama dengan industri, dan juga dengan universitas internasional dan domestik. Proyek ini juga akan membiayai konstruksi ruang kuliah dan laboratorium baru, serta infrastruktur lainnya yang dilengkapi dengan fitur rancangan yang tahan iklim.

Universitas di Sumatera akan mendirikan pusat penelitian untuk pertanian dan sumber daya alam berkelanjutan, sekaligus ilmu kelautan dan perairan, untuk mendukung perkembangan perekonomian setempat. Universitas Pendidikan Indonesia akan berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan teknis dan kejuruan, serta pelatihan guru di bidang-bidang seperti sistem dan teknologi informasi; kecerdasan artifisial dan robotika; rekayasa instrumentasi industri; dan rekayasa energi terbarukan.

“Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk berusia termuda di dunia, yang diperkirakan akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Populasi pekerja berusia muda ini sangat perlu memiliki keterampilan yang dibutuhkan pasar tenaga kerja,” kata Rudi van Dael, Senior Social Sector Specialist ADB. “Bantuan ADB akan meningkatkan akses pelajar ke pendidikan tinggi dan mendukung peningkatan keterampilan dan pengetahuan di antara kaum muda Indonesia.”

Meskipun partisipasi dalam pendidikan tinggi di Indonesia telah meningkat menjadi 7,5 juta pada tahun 2018 dari sebelumnya 4 juta pada 2004, Indonesia menghadapi kekurangan pekerja terampil seiring beralihnya perekonomian Indonesia ke industri yang lebih padat teknologi dan layanan, sehingga memerlukan tingkat kemampuan teknis yang lebih tinggi di bidang-bidang seperti penggalian data (data mining) dan robotika.

“Para pelajar yang mengambil pendidikan bidang teknik dan teknologi sangat banyak dicari, dan mengingat pelajar yang mengambil pendidikan di bidang-bidang tersebut baru 20%, angkanya masih bisa bertambah lagi,” kata Sutarum Wiryono, Senior Project Officer ADB. “Para pelajar akan diuntungkan jika keterampilan yang mereka miliki dapat memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja dan jika guru memiliki kualifikasi untuk mengajar.”

Biaya keseluruhan proyek, yang diperkirakan akan selesai pada akhir 2023, adalah $266,5 juta, dengan kontribusi dari pemerintah Indonesia sebesar $66,5 juta.

ADB berkomitmen mencapai Asia dan Pasifik yang makmur, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, sambil melanjutkan upayanya memberantas kemiskinan ekstrem. Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 67 anggota—48 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik. Pada 2017, operasi ADB mencapai $32,2 miliar, termasuk $11,9 miliar dalam bentuk pembiayaan bersama (cofinancing).

Media Contact

SHARE THIS PAGE