MANILA, FILIPINA (4 April 2023) — Asian Development Bank (ADB) memperkirakan perekonomian yang sedang berkembang di Asia dan Pasifik akan tumbuh lebih baik tahun ini, seiring terus dilonggarkannya pembatasan pandemi sehingga mendorong konsumsi, pariwisata, dan investasi. Pembukaan kembali Republik Rakyat Tiongkok (RRT)—berbalik dari strategi zero-COVID sebelumnya—merupakan faktor utama yang membuat prospek pertumbuhan kawasan ini makin cerah.

Perekonomian di Asia dan Pasifik diproyeksikan akan tumbuh 4,8% pada tahun ini dan tahun depan, lebih baik dari tingkat pertumbuhan 4,2% pada 2022, demikian menurut Asian Development Outlook (ADO) April 2023 yang dirilis hari ini. Di luar RRT, kawasan Asia yang sedang berkembang diperkirakan akan tumbuh 4,6% pada tahun ini dan 5,1% pada 2024. Sementara itu, inflasi di kawasan ini diperkirakan akan menurun perlahan ke tingkat sebelum pandemi, meskipun terdapat variasi yang cukup besar di antara berbagai perekonomian.

Membaiknya konsumsi dan investasi telah mendorong pemulihan di berbagai perekonomian regional, mengimbangi dampak dari kenaikan harga pangan dan energi akibat invasi Rusia ke Ukraina dan tekanan global lainnya. Pariwisata dan remitansi terus membaik seiring makin dilonggarkannya pembatasan pandemi. Banyak perekonomian yang bergantung pada pariwisata mengalami pertumbuhan kedatangan pengunjung menuju tingkat sebelum pandemi. 

Namun, risiko terhadap proyeksi ini tetap ada. Invasi Rusia ke Ukraina yang berkepanjangan atau makin parah dapat menimbulkan gejolak baru pada harga komoditas dan inflasi global, serta mendorong pengetatan moneter lebih lanjut. Kondisi keuangan global yang lebih ketat, bersamaan dengan naiknya utang selama dekade sebelumnya dan selama pandemi, telah meningkatkan risiko kestabilan keuangan, seperti yang bisa dilihat pada gejolak sektor perbankan baru-baru ini di Amerika Serikat dan Eropa. Berbagai risiko tersebut harus dipantau dengan saksama dan diatasi secara proaktif, demikian menurut ADO April 2023. 

“Berbagai perekonomian di Asia dan Pasifik kini memiliki prospek yang lebih cerah, dan siap untuk pemulihan yang kuat seiring kita kembali ke keadaan normal sehabis pandemi,” kata Kepala Ekonom ADB Albert Park. “Orang-orang mulai bepergian lagi untuk liburan dan untuk bekerja, dan kegiatan ekonomi pun terus meningkat. Karena masih ada berbagai tantangan, pemerintah di kawasan ini harus tetap fokus pada kebijakan yang mendukung kerja sama dan integrasi lebih kuat guna mempromosikan perdagangan, investasi, produktivitas, dan ketangguhan.”

Setelah dicabutnya strategi zero-COVID pada Desember tahun lalu, perekonomian RRT diperkirakan akan tumbuh 5,0% pada tahun ini dan 4,5% pada 2024, dibandingkan dengan 3,0% pada 2022. Sementara itu, India diperkirakan akan tumbuh 6,4% pada tahun ini dan 6,7% tahun depan berkat permintaan dalam negeri yang kuat.

Kinerja pariwisata yang bagus dan permintaan dalam negeri yang kuat mendongkrak perekonomian berbagai negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Filipina, dan Viet Nam, dengan subkawasan ini diproyeksikan tumbuh 4,7% pada tahun ini dan 5,0% pada 2024. Perekonomian di Kaukasus dan Asia Tengah juga diperkirakan akan tumbuh stabil, dengan prakiraan pertumbuhan 4,4% pada tahun ini dan 4,6% pada 2024 bagi subkawasan ini. Pembukaan kembali dan pemulihan pariwisata yang terus berlanjut akan mendukung pertumbuhan di Pasifik, yang diperkirakan akan mencapai 3,3% pada tahun ini sebelum melandai ke 2,8% pada 2024.

Inflasi regional akan turun ke 4,2% pada 2023 dan 3,3% pada 2024, setelah sebelumnya mencapai 4,4% tahun lalu. Meredanya tekanan terhadap rantai pasokan, makin ketatnya kondisi moneter, dan harga komoditas yang menurun walaupun tetap tinggi, diperkirakan akan mempengaruhi proyeksi inflasi di kawasan Asia yang sedang berkembang. 

ADB berkomitmen mencapai Asia dan Pasifik yang makmur, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, serta terus melanjutkan upayanya memberantas kemiskinan ekstrem. Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 68 anggota—49 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik.

GDP growth rate, % per year

Media Contact