fbpx ADB Dorong Asia Manfaatkan Peluang Rantai Nilai Global | Asian Development Bank

ADB Dorong Asia Manfaatkan Peluang Rantai Nilai Global

News Release | 25 September 2014

HONG KONG, TIONGKOK – Perekonomian di Asia. yang telah memperoleh banyak manfaat dari rantai nilai global (global value chain, atau GVC) selama 25 tahun terakhir, masih dapat meraih banyak manfaat jika pemerintah dan dunia usaha dapat bekerja sama menurunkan hambatan perdagangan tarif maupun nontarif, serta meningkatkan infrastruktur logistik dan transportasi, demikian menurut laporan baru dari Asian Development Bank (ADB).

GVC memainkan peran yang makin penting dalam perdagangan internasional. Sebuah studi terhadap perekonomian 59 negara mendapati bahwa hampir setengah dari semua ekspor manufaktur terkait dengan GVC, naik dari yang sebelumnya hanya sepertiga pada pertengahan tahun 1990-an. Porsi perdagangan GVC di Asia dalam ekspor manufaktur dunia sempat mencapai 16,2% pada 2008, hampir dua kali lipat dari 8,6% pada 1995, sebelum terpuruknya perdagangan dunia tahun 2009, seperti yang dicatat pada bab “Asia in Global Value Chains” dalam Asian Development Outlook 2014 Update.

“Dengan mengamati pergerakan barang lintas batas negara dari perspektif nilai tambah, akan muncul pemahaman baru mengenai cara kita melihat hubungan bilateral dan keunggulan komparatif suatu negara dalam peta perdagangan dunia,” jelas Chief Economist ADB, Shang-Jin Wei. “Bila daya saing dipandang dari segi tahap produksi tertentu, dan bukan dari keseluruhan proses produksi, maka banyak negara dapat meningkatkan pertumbuhan pendapatan dan lapangan kerja dengan membangun kaitan ke GVC yang dinamis.”

Meskipun menjadi bagian dari GVC dapat menyebabkan suatu perekonomian terkena dampak guncangan yang menimpa mata rantai lainnya, manfaatnya nampaknya lebih banyak daripada biayanya. Industri dengan perdagangan GVC yang berlipat ganda selama 1995–2008 mengalami pertumbuhan keluaran 19% lebih cepat daripada industri lain, dan peningkatan lapangan kerja 10%. Perekonomian dengan perdagangan GVC yang berlipat ganda dalam periode yang sama, menikmati kenaikan pendapatan per kapita 12%.

Sejauh ini, sebagian besar perdagangan GVC di Asia dan Pasifik dihasilkan oleh perekonomian di Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Jepang dan Republik Rakyat Tiongkok. Belum banyak negara di Asia Tengah, Asia Selatan, atau Pasifik yang sudah menemukan ceruk GVC-nya. Berbagai perekonomian tersebut menghadapi sejumlah tantangan untuk membangun kaitan ke GVC, termasuk lokasi yang terpencil, hambatan perdagangan yang berat, infrastruktur transportasi yang kurang terbangun, serta rintangan peraturan dan kelemahan kebijakan, sehingga menjadikannya kurang menarik bagi investasi GVC.

Laporan ini mendapati bahwa penurunan tarif dan biaya-biaya logistik serta transportasi turut membantu proses produksi lintas batas, tetapi masih banyak yang dapat dilakukan. Simulasi dengan rantai dua tahap yang sederhana di Asia Tenggara memperlihatkan bahwa GVC akan memperbesar biaya perdagangan sampai 80% akibat berlipat gandanya biaya seperti tarif terhadap barang yang diperdagangkan lintas batas. Namun, penghematan dari pengurangan biaya yang kecil juga akan diperbesar dan menawarkan manfaat besar bagi pertumbuhan jaringan produksi.

Laporan ini mengidentifikasi tiga bidang yang memerlukan langkah kebijakan yang tepat guna membantu pendirian atau perkuatan hubungan ke GVC dan meraih manfaatnya:

  • GVC hanya dapat berkembang jika tarifnya rendah dan dapat diperkirakan. Pihak yang berwenang dapat menjadikan tarif lebih mudah diperkirakan melalui normalisasi hubungan dagang dengan mitranya, menurunkan tarif yang terikat di bawah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan menghindari aturan perdagangan sementara. Tingkat yang rendah dan dapat diperkirakan untuk pajak lain-lain, termasuk pajak nilai tambah yang dipungut di perbatasan, juga akan bermanfaat bagi GVC.
  • Infrastruktur logistik dan transportasi yang baik dapat memangkas biaya perdagangan lebih besar daripada sekadar penurunan tarif. Keterlambatan dalam memindahkan barang dari pabrik di wilayah pedalaman ke pesisir, baik melalui fasilitas pabean maupun melalui pelabuhannya sendiri, akan menambah biaya pengapalan. Investasi infrastruktur dapat mengurangi kemacetan di pelabuhan dan mempercepat transportasi dari wilayah pedalaman. Perampingan prosedur kepabeanan untuk mengurangi beban administrasi juga akan memperpendek waktu pengapalan. Kerja sama internasional, seperti investasi pada koridor transportasi regional atau fasilitas perdagangan WTO, dapat melengkapi upaya di tingkat nasional.
  • Standar proses dan produk sangatlah penting bagi operasi GVC dan untuk melindungi kesehatan masyarakat, kesejahteraan sosial, serta lingkungan hidup, tetapi jangan sampai disalahgunakan menjadi penghambat perdagangan. Sama seperti tarif, GVC akan memperbesar biaya dari aturan-aturan nontarif, seperti standar produk. Seiring makin banyaknya yurisdiksi yang dilewati jalur produksi, harmonisasi standar menjadi makin penting. Peraturan dan penilaian kesesuaian seharusnya tidak memunculkan diskriminasi atau menambah beban biaya secara berlebihan, tetapi untuk memastikan kepatuhan memang diperlukan investasi dalam laboratorium dan fasilitas lainnya guna keperluan kalibrasi, akreditasi, sertifikasi, dan penilaian kesesuaian.

ADB, yang berkedudukan di Manila, didedikasikan untuk mengurangi kemiskinan di kawasan Asia dan Pasifik melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif dengan lingkungan yang berkelanjutan, dan integrasi kawasan. ADB didirikan pada tahun 1966 dan dimiliki oleh 67 anggota – 48 diantaranya berasal dari kawasan Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia. Pada tahun 2013, bantuan ADB berjumlah sebesar $210 milyar, termasuk pembiayaan bersama (cofinancing) sebesar $6,6 milyar.