MANILA, FILIPINA (21 Oktober 2020) — Masatsugu Asakawa, Presiden Asian Development Bank (ADB), hari ini mendorong negara-negara di Asia Tenggara untuk memperluas investasi pada infrastruktur digital dan memastikan akses yang adil ke teknologi seiring upaya pemulihan dari pandemi penyakit virus korona (COVID-19).

“Kita harus mengatasi kesenjangan digital dan meningkatkan investasi di infrastruktur digital, dengan membangun lebih banyak lagi jaringan pita lebar dengan kualitas yang lebih tinggi, serta memastikan akses dan cakupan internet dengan harga terjangkau,” kata Masatsugu Asakawa dalam pidato utama pada Simposium Pembangunan Asia Tenggara (Southeast Asia Development Symposium) yang pertama dari ADB. “Langkah-langkah tersebut juga dapat meningkatkan akses ke layanan sosial dasar, seperti kesehatan dan pendidikan, serta akses ke layanan keuangan. Investasi semacam itu akan membuat negara-negara lebih siap untuk mengatasi ketimpangan pendapatan dan disparitas peluang akibat pandemi.”

Simposium Pembangunan Asia Tenggara ini bertujuan memberikan beragam perspektif terbaru kepada pemerintah dan para pemangku kepentingan lain tentang sejumlah persoalan pembangunan yang sangat penting. Sejalan dengan upaya negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk merespons COVID-19, simposium pertama ini berfokus untuk memberi dukungan pengetahuan dalam penanganan dampak ekonomi dan sosial akibat pandemi.

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pidato dalam pembukaan pleno, yang dilanjutkan dengan dialog tingkat tinggi berjudul The New Normal: Driving Economic Recovery through Digital Innovation bersama Nadiem Anwar Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nadiem Makarim; Wakil Presiden ADB Ahmed M. Saeed;  Microsoft’s General Manager for Public Sector in Asia-Pacific Sherie Ng; Google’s Vice-President for Government Affairs and Public Policy in Asia-Pacific Ted Osius; Mastercard’s Senior Vice President for Public-Private Partnership Mimi Alemayehou; dan 500 Startups’ Managing Partner Khailee Ng.

Dalam sambutannya, Masatsugu Asakawa menekankan lima bidang kebijakan penting yang dapat mendukung perekonomian negara berkembang di Asia Tenggara yang sejalan dengan kembalinya negara-negara tersebut ke pertumbuhan berkelanjutan:

  • Pertama, mengatasi disparitas regional dan memastikan akses yang lebih adil ke teknologi, termasuk perluasan investasi pada infrastruktur digital untuk mengatasi “kesenjangan digital”, sambil turut meningkatkan keamanan siber.
  • Kedua, memfasilitasi pemulihan yang hijau dan berdaya tahan dengan mendorong investasi yang menggerakan kegiatan perekonomian menuju praktik-praktik rendah karbon dan berdaya tahan.
  • Ketiga, memperkuat kerja sama dan integrasi regional dengan meningkatkan konektivitas digital lintas batas negara, sistem pabean elektronik (e-customs), dan sistem pelacakan kargo elektronik.
  • Keempat, memperdalam kapasitas kelembagaan untuk memobilisasi sumber daya domestik guna membiayai layanan publik, sembari memastikan keberlanjutan utang.
  • Kelima, menginkubasi, mengembangkan, dan mengumpulkan usaha kecil dan menengah (UKM) dengan kewirausahaan dan teknologi, yang didukung oleh ekosistem keuangan, akademis, dan dunia usaha yang disatukan guna membantu menyiapkan pertumbuhan berbasis teknologi.

Seiring makin pentingnya digitalisasi sebagai bagian dari pemulihan ekonomi dalam jangka lebih panjang, para peserta mendiskusikan bagaimana cara meningkatkan pemulihan ekonomi melalui inovasi digital, cara memupuk lingkungan untuk adopsi teknologi, serta cara memanfaatkan teknologi untuk perawatan kesehatan dan pembelajaran jarak jauh. Para peserta juga mengkaji cara-cara memfasilitasi pemulihan yang hijau dan berdaya tahan dengan mengedepankan investasi yang ramah iklim dan ramah lingkungan. Sebagai contoh, sistem transportasi pintar dapat mendukung sistem pengendalian lalu lintas real-time dan pengaturan rute transportasi guna mengelola kemacetan dan mengurangi pencemaran udara, sementara sistem jaringan kelistrikan pintar akan membantu terciptanya pasokan energi yang lebih efisien untuk pemulihan yang hijau.

Acara virtual satu hari tersebut menarik lebih dari 1.700 pejabat tinggi pemerintah, perwakilan sektor swasta, serta pemangku kepentingan lain dari 57 negara.

ADB berkomitmen mencapai Asia dan Pasifik yang makmur, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, serta terus melanjutkan upayanya memberantas kemiskinan ekstrem. Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 68 anggota—49 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik.

Media Contact