MANILA, FILIPINA — Pertumbuhan perekonomian negara berkembang di Asia dan Pasifik masih solid karena kinerja yang baik di Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara membantu mengimbangi penurunan perekonomian Amerika Serikat dan guncangan pasar jangka pendek akibat Brexit, demikian menurut laporan baru Asian Development Bank (ADB).

Dalam Laporan Tambahan pada Asian Development Outlook 2016 (ADO 2016, terbit pada bulan Maret yang lalu), ADB kini memprakirakan perekonomian negara-negara berkembang Asia hanya akan tumbuh 5,6% pada 2016, turun dari proyeksi 5,7% sebelumnya. Untuk 2017, perkiraan pertumbuhannya masih sama pada 5,7%.

“Meskipun Brexit berpengaruh terhadap mata uang dan pasar modal negara berkembang di Asia, dampaknya terhadap ekonomi riil dalam jangka pendek diperkirakan kecil saja,” papar Shang-Jin Wei, Ekonom Kepala di ADB. “Namun, mengingat lemahnya prospek pertumbuhan ekonomi di negara-negara industri utama, para pembuat kebijakan harus tetap waspada dan tanggap terhadap potensi guncangan eksternal, demi memastikan pertumbuhan di kawasan ini tetap kuat.”

Laporan Tambahan ini mencatat bahwa pertumbuhan 2016 dan 2017 dipimpin oleh Asia Selatan, terutama India, yang terus berkembang pesat, sedangkan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tampaknya masih mampu mencapai proyeksi pertumbuhan sebelumnya.

Di Asia Tenggara, proyeksi pertumbuhan subkawasan ini pada 2016 dan 2017 tidak berubah sebesar 4,5% dan 4,8%, dengan kinerja solid di sebagian besar perekonomian pada paruh pertama 2016, yang didorong oleh pengeluaran rumah tangga. Pengecualiannya adalah Viet Nam yang menghadapi tekanan perekonomian akibat memburuknya kekeringan sehingga terjadi kontraksi di sektor pertanian.

Perekonomian Indonesia tumbuh 4,9% pada triwulan pertama 2016, ditopang oleh pengeluaran rumah tangga dan investasi yang lebih kuat. Tekanan inflasi yang rendah berkat stabilnya harga bahan bakar, gas cair, dan tarif listrik, serta nilai tukar rupiah yang stabil turut mendukung pengeluaran rumah tangga. Sementara itu, belanja pemerintah tumbuh 2,9%, sesuai dengan tren rendahnya belanja pada triwulan pertama.

Pengeluaran rumah tangga diperkirakan akan sedikit naik karena inflasi yang moderat, nilai rupiah yang relatif stabil, dan diturunkannya harga energi pada bulan April, sedangkan kenaikan jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak yang telah diumumkan dan gaji ke-14 untuk pegawai negeri akan makin meningkatkan pengeluaran rumah tangga.

ADB tetap mempertahankan prakiraan pertumbuhan untuk Indonesia sebesar 5,2% di 2016, dan 5,5 di 2017. Namun, terdapat beberapa risiko. Lebih kecilnya pendapatan dari proyeksi semula dapat menghambat rencana pemerintah untuk membangun infrastruktur, sedangkan pertumbuhan kredit yang terus melemah dapat memperlambat pulihnya investasi swasta domestik. Risiko eksternal yang utama adalah pertumbuhan global yang lebih lemah dari prakiraan awal, dan meningginya gejolak pasar finansial dunia.

Sementara itu di Asia Timur, sepinya aktivitas di Republik Korea dan Hong Kong,Tiongkok, tidak mengubah prakiraan pertumbuhan 5,7% pada 2016 dan 5,6% pada 2017, dengan RRT masih mampu mencapai proyeksi pertumbuhan 6,5% pada 2016 dan 6,3% pada 2017. Untuk mendukung target tersebut, pemerintah RRT diperkirakan akan terus menjalankan langkah-langkah stimulus fiskal dan moneter.

Asia Selatan diperkirakan akan menjadi subkawasan yang tumbuh paling cepat, dipimpin oleh India yang perekonomiannya berhasil mengatasi tantangan global dan akan mampu mencapai proyeksi target pertumbuhan ADB sebesar 7,4% untuk tahun fiskal 2016 (setahun sampai dengan Maret 2017), didukung oleh belanja konsumen yang kuat dan meningkatnya perekonomian perdesaan. Di Pakistan, kenaikan perbaikan lebih lanjut pada pasokan energi, peningkatan investasi infrastruktur, dan perbaikan kondisi keamanan akan membantu mendorong pertumbuhan pada 2016 dan 2017, sedangkan perekonomian Bangladesh masih kokoh berkat kekuatan sektor garmennya.

Masih lemahnya harga komoditas dan resesi di Federasi Rusia semakin menurunkan prospek pertumbuhan Asia Tengah, dengan prakiraan 2016 sebelumnya sebesar 2,1% dipangkas menjadi 1,7% dan untuk 2017 dari 2,8% menjadi 2,7%. Merosotnya pendapatan dari ekspor hidrokarbon berdampak terhadap upaya konsolidasi fiskal di Azerbaijan, Kazakhstan, Turkmenistan, dan Uzbekistan, sedangkan tingkat remitansi yang menurun, terutama dari Federasi Rusia, semakin mencederai konsumsi domestik di subkawasan ini.

Di Pasifik, pertumbuhan 2016 diperkirakan akan turun ke 3,9% pada 2016 dari sebelumnya 7,1% pada 2015, dengan perekonomian Fiji yang terkena dampak berat Badai Winston. Namun, ada beberapa titik terang dengan penerimaan pariwisata yang lebih besar daripada perkiraan di Kepulauan Cook dan Samoa, sedangkan perekonomian Vanuatu terdongkrak oleh pekerjaan rekonstruksi pascabadai dan proyek infrastruktur besar lainnya.

Laporan ini kini memproyeksikan inflasi di kawasan Asia yang sedang berkembang akan mencapai 2,8% pada 2016 dan 3,0% pada 2017—kenaikan 0,3 poin persentase untuk kedua tahun tersebut dari prakiraan sebelumnya. Kenaikan ini sebagian besar adalah akibat meningkatnya kembali harga minyak dan pangan. Harga minyak kembali naik setelah menyentuh titik terendahnya awal tahun ini dan harga pangan naik hampir 9% pada Juni 2016 dibandingkan setahun sebelumnya, menandai lima bulan berturut-turut indeks tersebut mengalami kenaikan.

ADB, yang berbasis di Manila, berupaya mengurangi kemiskinan di Asia dan Pasifik melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pertumbuhan yang menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan integrasi kawasan. Berdiri pada 1966, ADB akan menandai 50 tahun kemitraan pembangunan di kawasan ini pada Desember 2016. ADB dimiliki oleh 67 anggota—48 di antara berada di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia. Pada 2015, keseluruhan bantuan ADB mencapai $27,2 miliar, termasuk pembiayaan bersama (cofinancing) senilai $10,7 miliar.

Media Contact

SHARE THIS PAGE