fbpx MENINGKATNYA KESENJANGAN KAYA DAN MISKIN DI ASIA MENGANCAM PERTUMBUHAN DAN STABILITAS | Asian Development Bank

MENINGKATNYA KESENJANGAN KAYA DAN MISKIN DI ASIA MENGANCAM PERTUMBUHAN DAN STABILITAS

News Release | 11 April 2012

Hong Kong, China (11 April 2012) - Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia belum dinikmati oleh jutaan orang sehingga menyebabkan kesenjangan antara kaya dan miskin meningkat dan mengancam kestabilan kawasan, demikian laporan baru yang diterbitkan Asian Development Bank (ADB) hari ini.

"Ada 240 juta orang lagi yang bisa dientaskan dari kemiskinan dalam dua puluh tahun terakhir jika kesenjangan tetap stabil dan tidak terus meningkat seperti yang terjadi sejak tahun 1990an," kata Changyong Rhee, Kepala Ekonom ADB.

Publikasi ekonomi tahunan ADB, Asian Development Outlook 2012, mengatakan bahwa kesenjangan pendapatan tercatat meningkat di kawasan dimana 1% rumah tangga yang paling kaya menguasai 6% hingga 8% dari seluruh pendapatan. Hampir 20% dari seluruh pendapatan dinikmati oleh 5% dari kelompok paling kaya di sebagian besar negara di kawasan Asia. Laporan ini menunjukkan bahwa bagian pendapatan yang dikumpulkan oleh rumah tangga paling kaya terus mengalami peningkatan.

Koefisien Gini - yang menjadi alat pengukur utama kesenjangan - meningkat di tiga perekonomian terbesar di kawasan yakni Republik Rakyat Cina, India dan Indonesia. Dari awal tahun 1990an hingga sekitar 2010, Gini koefisien meningkat di Cina dari 32 naik menjadi 43, di India meningkat dari 33 ke 37 dan di Indonesia dari 29 meningkat menjadi 39. Jika dilihat sebagai satu kesatuan maka Gini koefisien kawasan Asia meningkat dari 39 menjadi 46 dalam dua dekade terakhir.

Tidak meratanya akses pendidikan, kesehatan dan layanan publik lainnya memberikan sumbangan besar pada meningkatnya kesenjangan. Hal ini makin menghambat peluang bagi kelompok miskin untuk meningkatkan standar hidup mereka. Angka putus sekolah anak-anak dari keluarga paling miskin hampir lima kali lipat lebih tinggi, sementara kemungkinan anak keluarga miskin meninggal pada saat kelahiran 10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang lahir dari keluarga kaya.

"Kesenjangan menimbulkan lingkaran setan, dimana kesempatan yang tidak sama menimbulkan kesenjangan pendapatan dan pada akhirnya menimbulkan perbedaan yang sangat besar bagi masa depan keluarga," kata Changyong Rhee.

Sangat tidak meratanya penyebaran teknologi baru, infrastruktur dan investasi semakin menambah jurang perbedaan, terutama antara kawasan perkotaan dan pedesaan, kawasan pesisir dan kawasan daratan. Di Cina perbedaan antara desa dan kota dan perbedaan antara propinsi merupakan bagian terbesar dari kesenjangan yang terjadi disana.

Gaji tenaga kerja terampil telah meningkat di banyak negara dan pekerja dengan pendidikan yang lebih baik menikmati pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi. Kemajuan teknologi menghendaki lebih banyak modal daripada tenaga kerja dimana sumbangan pendapatan tenaga kerja terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) turun dan sumbangan modal terhadap PDB meningkat di banyak negara. Melimpahnya tenaga kerja dibandingkan dengan modal di kawasan juga menjadi salah satu penyebab menurunnya sumbangan pendapatan tenaga kerja terhadap PDB, demikian ADO.

Laporan ini menyebutkan bahwa pemerintah harus fokus pada kebijakan untuk mengurangi kesenjangan. Kebijakan tersebut diantaranya adalah menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan belanja untuk pendidikan dan kesehatan, kebijakan redistribusi seperti pajak progresif dan memperluas perlindungan sosial termasuk bantuan tunai bersyarat untuk kelompok miskin. Kebijakan lain termasuk mengalihkan belanja untuk subsidi seperti subsidi bahan bakar minyak yang tidak tepat sasaran untuk program-program yang lebih tepat sasaran, penggalangan pendapatan yang lebih tinggi dan lebih merata, dan investasi yang lebih besar untuk infrastruktur guna mengurangi kesenjangan antara kawasan yang maju dan dan kawasan tertinggal.

ADB berkedudukan di Manila dan bertekad mengurangi kemiskinan di kawasan Asia dan Pasifik melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif dengan lingkungan yang berkelanjutan serta integrasi regional. ADB didirikan pada tahun 1966 dan dimiliki oleh 67 negara anggota - 48 diantaranya berada di kawasan.