fbpx Pertumbuhan Asia Stabil di Tengah Upaya Reformasi Sejumlah Negara Besar | Asian Development Bank

Pertumbuhan Asia Stabil di Tengah Upaya Reformasi Sejumlah Negara Besar

News Release | 25 September 2014

HONG KONG, TIONGKOK – Wilayah Asia yang sedang berkembang masih menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, meskipun pertumbuhan di negara-negara industri utama lebih rendah daripada yang diharapkan seiring berlanjutnya reformasi struktural di sejumlah perekonomian penting di kawasan ini, demikian menurut laporan baru dari Asian Development Bank (ADB).

Dalam edisi pembaruan publikasi ekonomi tahunan Asian Development Outlook 2014 (ADO 2014), yang dirilis hari ini, ADB mempertahankan prakiraan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di kawasan ini sebesar 6,2% pada 2014 dan 6,4% pada 2015. Asia tumbuh 6,1% pada 2013. Wilayah Asia yang sedang berkembang mencakup 45 negara berkembang anggota ADB.

“Menurunnya permintaan eksternal berdampak buruk bagi sejumlah perekonomian di kawasan ini, tetapi secara keseluruhan, Asia dan Pasifik masih akan mencatat pertumbuhan kuat pada 2014 dan 2015,” ujar Chief Economist ADB, Shang-Jin Wei, saat peluncuran laporan. “Untuk ke depannya, proses reformasi struktural di [Republik Rakyat] Tiongkok/RRT, India, dan Indonesia—tiga perekonomian terbesar di kawasan ini—akan sangat mempengaruhi proyeksi pertumbuhan Asia.”

Setelah terjadinya musim dingin yang parah di Amerika Serikat pada kuartal pertama, kenaikan pajak pertambahan nilai di Jepang pada kuartal kedua, dan masih berlanjutnya perlemahan ekonomi Eropa, perekonomian industri utama di dunia nyaris tidak mencatat pertumbuhan pada semester pertama 2014. Prakiraannya saat ini adalah ekspansi perekonomian industri utama sebesar 1,5% pada 2014, turun 0,4 persen dari prakiraan ADO 2014 yang dirilis bulan April lalu, lalu akan membaik hingga 2,1% pada 2015.

Langkah-langkah yang ditargetkan secara khusus untuk menstabilkan investasi telah membantu Tiongkok mempertahankan pertumbuhannya. Setelah mencatat pertumbuhan 7,4% pada kuartal pertama, nilai konsumsi yang bertahan sama dan meningkatnya permintaan eksternal membawa pertumbuhan kuartal kedua naik tipis ke 7,5%. Pemerintah menerapkan pelonggaran kebijakan moneter dengans sasaran khusus, dan sedikit stimulus fiskal untuk menjaga agar pertumbuhan tidak menurun lebih jauh dari angka 7,7% yang dibukukan pada 2013, sambil terus membatasi pertumbuhan utang. Tiongkok diprediksi akan berhasil mencapai prakiraan pertumbuhan ADO 2014 sebesar 7,5% pada 2014 dan 7,4% pada 2015.

India memperlihatkan harapan baru untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Setelah meraih kemenangan meyakinkan dalam pemilu, pemerintah baru siap menjalankan reformasi demi mewujudkan potensi perekonomian India. Reformasi untuk mendorong investasi, pemberian izin lingkungan yang tepat waktu, dan pengendalian inflasi, diharapkan dapat semakin meningkatkan ekspor demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Pembaruan ini mempertahankan prakiraan pertumbuhan India sebesar 5,5% pada 2014, tetapi meningkatkan prakiraan untuk 2015 sebesar 0,3 persen ke 6,3%, saat reformasi sudah mulai menunjukkan hasilnya.

Di balik pertumbuhan yang stabil secara keseluruhan, telah terjadi perubahan keadaan yang terjadi di sejumlah sub-kawasan:

  • Asia Tenggara akan tumbuh lebih baik tahun depan setelah mengalami pertumbuhan yang tidak sesuai perkiraan di 2014. Pertumbuhan tahun ini diproyeksikan hanya mencapai 4,6%, lebih rendah daripada prakiraan 5,0% di ADO 2014 dan pertumbuhan sesungguhnya sebesar 5,0% pada 2013. Beberapa perekonomian yang cukup besar mengalami penurunan permintaan domestik, sehingga prakiraan PDB dipangkas untuk Indonesia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Viet Nam. Sebaliknya, ekspor Malaysia yang naik lagi setelah sebelumnya turun ternyata turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di negara itu. Tahun depan, kinerja perekonomian industri utama yang lebih baik dan pemulihan Thailand dari kemerosotan ekonominya akan mendorong pertumbuhan di Asia Tenggara ke 5,3%.
  • Pertumbuhan PDB di Asia Timur masih tetap sebesar 6,7% pada 2014 dan 2015 karena penurunan pertumbuhan di RRT dan Hong Kong—serta perlambatan di Mongolia—tertutupi oleh peningkatan yang didorong ekspor di Republik Korea dan Taipei,RRT. Pertumbuhan PDB di Mongolia akan turun jauh di bawah prakiraan ADO 2014 untuk tahun 2014 dan 2015 akibat anjloknya investasi asing and tertundanya sejumlah proyek pertambangan. Inflasi di Asia Timur akan tetap terkendali sebesar 2,4% pada 2014, tetapi kemungkinan akan merayap naik ke 2,9% pada 2015, yang terutama mencerminkan situasi di RRT.
  • Asia Selatan menunjukkan kinerja lebih baik daripada yang diperkirakan. Prakiraan pertumbuhan di sub-kawasan tersebut untuk 2014 naik tipis ke 5,4%, yang mencerminkan penguatan di Bangladesh dan Pakistan berkat ekspor dan remitansi. Pertumbuhan di Asia Selatan akan naik ke 6,1% pada 2015, lebih tinggi 0,3 persen daripada prakiraan sebelumnya. Selain revisi ke atas untuk India, prakiraan pertumbuhan Pakistan dan Bangladesh juga naik tipis pada 2015, tetapi upaya perbaikan iklim investasi swasta akan sangat menentukan dalam kedua kasus tersebut. Prakiraan untuk inflasi sub-kawasan dipotong tipis sekitar 0,3 persen menjadi 6,1% pada 2014 dan 5,9% pada 2015.
  • Pertumbuhan di Asia Tengah terkendala akibat perlambatan di Federasi Rusia. Lebih rendah daripada proyeksi ADO 2014 sebelumnya, pertumbuhan di sub-kawasan ini kini diproyeksikan menurun ke 5,6% pada 2014 akibat perlambatan aktivitas di Armenia, Kazakhstan, Kirgistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Prakiraan untuk 2015 diturunkan ke 5,9% menyusul revisi terhadap pertumbuhan Armenia, Georgia, Kazakhstan, Kirgistan, dan Uzbekistan. Proyek pertumbuhan yang lebih rendah ini mencerminkan kondisi yang stagnan di Federasi Rusia dan perlambatan industri secara tajam di Kazakhstan.
  • Prospek di Pasifik meredup akibat kerusakan dari hujan yang sangat deras di Kepulauan Solomon pada awal 2014, aktivitas usaha yang tidak sesuai perkiraan di Timor-Leste, dan kemerosotan bidang konstruksi dan pariwisata di Palau.

Menurunnya harga pangan dan stabilnya harga minyak menjadikan inflasi masih tetap terjaga. Harga konsumen di kawasan ini diperkirakan akan naik 3,4% pada 2014, sama seperti pada 2013, tetapi akan meningkat tipis ke 3,7% pada 2015. Sebagian besar pemerintah mempertahankan kebijakan tingkat suku bunganya sesuai dengan keadaan inflasi rendah.

ADB, yang berkedudukan di Manila, didedikasikan untuk mengurangi kemiskinan di kawasan Asia dan Pasifik melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif dengan lingkungan yang berkelanjutan, dan integrasi kawasan. ADB didirikan pada tahun 1966 dan dimiliki oleh 67 anggota – 48 diantaranya berasal dari kawasan Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia. Pada tahun 2013, bantuan ADB berjumlah sebesar $210 milyar, termasuk pembiayaan bersama (cofinancing) sebesar $6,6 milyar.