fbpx Asia dan Pasifik Tetap Tumbuh, Ketegangan Perdagangan Timbulkan Risiko | Asian Development Bank

Asia dan Pasifik Tetap Tumbuh, Ketegangan Perdagangan Timbulkan Risiko

HONG KONG, TIONGKOK (26 September 2018) — Pertumbuhan masih stabil di sebagian besar kawasan Asia yang sedang berkembang berkat permintaan domestik yang kuat, harga minyak dan gas yang tinggi, serta pertumbuhan India yang kembali naik selepas konsolidasi. Akan tetapi, ketegangan perdagangan yang terus memuncak akan menguji ketangguhan kawasan ini, keadaan yang menggarisbawahi pentingnya upaya meningkatkan hubungan perdagangan di antara negara-negara Asia dan Pasifik, demikian menurut laporan baru dari Asian Development Bank (ADB).

Dalam edisi pembaruan publikasi ekonomi tahunannya yang terkemuka, Asian Development Outlook (ADO) 2018, ADB mempertahankan prakiraannya bahwa produk domestik bruto (PDB) kawasan ini akan tumbuh sebesar 6,0% pada 2018, sedangkan prakiraan pertumbuhan pada 2019 diturunkan 0,1 poin persentase menjadi 5,8%.

“Pertumbuhan di kawasan ini mampu bertahan menghadapi tantangan eksternal, dibantu oleh permintaan domestik yang kuat di Republik Rakyat Tiongkok (PRC) dan India,” jelas Yasuyuki Sawada, Ekonom Kepala ADB. “Risiko terbesar bagi kelanjutan pertumbuhan adalah gangguan terhadap jaringan produksi internasional akibat memuncaknya ketegangan perdagangan, tetapi pertumbuhan Asia seharusnya akan tetap tangguh menghadapi pengaruh langsung dari langkah-langkah perdagangan yang sudah diambil hingga saat ini.”

Permintaan domestik yang kuat menjadi penggerak bagi perekonomian terbesar di kawasan ini, sedangkan harga minyak dan gas yang tinggi memicu pertumbuhan negara-negara pengekspor energi seperti Kazakhstan. Namun, berbagai hambatan yang mulai mengemuka menimbulkan tanda tanya mengenai arah pertumbuhan kawasan ini di masa mendatang. Selain memuncaknya ketegangan perdagangan, likuiditas global yang makin ketat dapat makin meredupkan prospek dalam tahun-tahun ke depan.

Pertumbuhan perekonomian industri akan mencapai 2,3% pada tahun 2018 dan 2,0% pada 2019, masih sama seperti prakiraan dari April 2018. Belanja konsumen dan penciptaan lapangan kerja mendorong pertumbuhan yang kuat di Amerika Serikat. Namun, pemulihan Uni Eropa dan Jepang masih berjalan lambat pada awal tahun, sehingga menimbulkan revisi yang sedikit menurunkan proyeksi pertumbuhannya pada 2018. Amerika Serikat diperkirakan akan menormalisasi lebih lanjut keadaan moneter guna mendahului inflasi.

Solidnya konsumsi domestik dan pesatnya perkembangan jasa membantu memberikan kinerja ekonomi yang kuat di RRT selama paruh pertama 2018. Proyeksi pertumbuhan 2018 tetap tidak berubah sebesar 6,6%, tetapi proyeksi 2019 direvisi turun menjadi 6,3%, yang mencerminkan melambatnya pertumbuhan permintaan dan risiko memuncaknya ketegangan perdagangan. Reformasi sisi pasokan yang didukung oleh langkah-langkah moneter dan fiskal akan membantu menjaga pertumbuhan tetap baik, sebut laporan tersebut.

Perekonomian India terus bertumbuh dengan kuat. Prakiraan pertumbuhannya tetap tidak berubah sebesar 7,3% pada 2018 dan 7,6% pada 2019 seiring mulai meredanya pengaruh sementara dari demonetisasi uang kertas pecahan besar dan diperkenalkannya pajak barang dan jasa nasional, sesuai perkiraan. Dampak kenaikan harga minyak diimbangi oleh kuatnya permintaan domestik dan naiknya ekspor, terutama di bidang manufaktur. Depresiasi rupee dan volatilitas pasar keuangan eksternal menjadi tantangan, demikian pula dengan laju inflasi yang semakin cepat meskipun kebijakan fiskal yang lebih ketat akan membantu mengatasi tekanan inflasi.

Pertumbuhan mulai melambat di 6 dari 10 negara Asia Tenggara, yang kini diperkirakan akan tumbuh 5,1% pada 2018, penurunan 0,1 poin persentase dibandingkan dengan prakiraan sebelumnya. Ekspor bersih menopang angka pertumbuhan di Indonesia, Filipina, Thailand, dan Viet Nam seiring naiknya impor untuk mendukung investasi infrastruktur pemerintah. Pertumbuhan seharusnya akan mencapai 5,2% pada 2019, konsisten dengan prakiraan dari April 2018, meskipun risiko yang menghambat tercapainya angka pertumbuhan tersebut makin besar.

Harga minyak dan gas alam yang lebih tinggi, bersama-sama dengan kenaikan ekspor dan investasi, mendorong kenaikan kecil pertumbuhan di Asia Tengah, yang diperkirakan akan mencapai 4,1% tahun ini. Sebaliknya, Pasifik diperkirakan akan tumbuh hanya 1,1%, setengah dari prakiraan sebelumnya, akibat gangguan dari gempa bumi di Papua Nugini dan kekurangan belanja pemerintah di Timor-Leste.

Risiko terhadap kawasan ini termasuk guncangan keuangan jika US Federal Reserve perlu menaikkan suku bunga lebih cepat daripada perkiraan saat ini demi mencegah inflasi. Namun, risiko yang paling besar adalah dampak memburuknya konflik perdagangan terhadap jaringan produksi lintas-batas, seiring terputusnya hubungan bisnis dan batalnya rencana investasi. Meskipun sejumlah perekonomian, terutama Asia Tenggara, dapat memperoleh manfaat jangka menengah melalui perdagangan yang dialihkan ke Asia Tenggara, akibat tak langsung dari konflik perdagangan adalah menurunnya keyakinan dan investasi di seluruh Asia dan Pasifik. Karena itu, upaya yang sedang dijalankan berbagai negara Asia untuk mengadakan perjanjian perdagangan di dalam dan di luar kawasan ini sangat penting guna menandingi bangkitnya proteksionisme.

ADB berkomitmen mencapai Asia dan Pasifik yang makmur, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, sambil melanjutkan upayanya memberantas kemiskinan ekstrem. Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 67 anggota—48 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik. Pada 2017, operasi ADB mencapai $32,2 miliar, termasuk $11,9 miliar dalam bentuk pembiayaan bersama (cofinancing).